Luhut: Bisyaroh Pada KH Zubair Tidak Ada Kaitannya Dengan Politik

77
0

Liputan5.net, JAKARTA – Terkait viralnya video Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Indonesia Luhut Binsar Panjaitan memberi amplop kepada seorang kiai beredar luas di media sosial. Akhirnya Luhut memberikan penjelasan resminya.

Luhut menjelaskan bahwa video tersebut merekam kunjungannya ke Pondok Pesantren Nurul Cholil di Bangkalan pada Sabtu 30 Maret 2019 lalu. Kunjungannya dalam rangka bersilaturahmi yang menjadi kebiasaannya sejak bertugas di Jawa Timur.

“Silaturahmi di pondok pesantren sudah biasa saya lakukan sejak menjadi Komandan Korem 081/Dhirotsaha Jaya di Madiun Jawa Timur pada tahun 1995. Bagi saya keberadaan pesantren telah menjadi pilar penting untuk menjaga kekokohan NKRI,” ujar Luhut dalam keterangan tertulisnya, Jumat (5/4/2019).

Menurut Luhut, kebiasaan itu merupakan sebuah tradisi hormat terhadap seorang Kiai. Hal itu sejak mengenal mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Oleh Gus Dur, dia mengaku diajari tentang tradisi pesantren dan Islam.

“Dari kebiasaan itulah saya mulai mengenal almarhum Gus Dur yang kemudian banyak mengajari saya tentang tradisi pesantren, sejarah Islam, dan tentang Islam yang membawa kedamaian,” katanya.

Selain bersilaturahmi, Luhut mengatakan kunjungan ke Ponpes Nurul Cholil dilakuka khusus untuk menjenguk KH Zubair Muntasor. Karena mendapatkan kabar bahwa sang kiai mendapatkan masalah kesehatan.

“Khusus mengenai kunjungan ke Bangkalan, saya sengaja menjenguk KH Zubair Muntasor yang saya dengar memiliki masalah kesehatan. Tentu hal ini tidak patut saya ceritakan ke publik secara lebih mendetail karena privasi Beliau,” ujar Luhut.

Luhut juga menegaskan pemberian amplop kepada KH Zubair Muntasor tak terkait dengan Pilpres 2019. Amplop tersebut merupakan bisyaroh atau tanda terima kasih dari jemaah yang mendengar tausiah, untuk membantu biaya pengobatan sang kiai.

“Sebagai tamu yang dijamu dan disambut dengan hangat, saya hanya dapat membalas dengan memberi bisyaroh sekedarnya untuk membantu pengobatan Beliau. Sayapun lebih dulu diberi oleh-oleh berupa batik dan batu akik. Begitulah tradisi yang kami lakukan untuk menjaga tali silaturahmi,” tuturnya.

Luhut juga menjelaskan dalam pertemuan yang berlangsung selama 15 menit itu dia hanya menitipkan pesan agar jangan sampai ada umat atau santri yang golput pada Pemilu 2019. Dia pun menyesalkan peristiwa tersebut seolah ‘dipelintir’ sebagai aksi jual beli suara yang dilakukannya kepada KH Zubair Muntasor.

“Saya menyesalkan adanya pihak-pihak yang mengatakan telah terjadi jual beli suara dalam pertemuan tersebut. Bagi saya, fitnah yang keji itu mencoreng kehormatan terutamanya KH Zubair Muntasor dan pondok pesantren yang diasuhnya,” kata Luhut.

Oleh sebab itu, Dia meminta semua pihak untuk mengedepankan pikiran jernih ketimbang berprasangka buruk kepada orang lain. Jangan sampai tradisi silaturahmi yang telah turun temurun dirusak oleh kecurigaan-kecurigaan yang tidak berdasar di tahun Politik.

“Saya mengimbau kepada para elite agar mengedepankan pikiran jernih ketimbang prasangka buruk, dan hati yang bersih ketimbang hati yang penuh kecurigaan. Ajaran hubungan dan jalinan silahturahmi yang sudah diajarkan turun temurun oleh para leluhur kita jangan dirusak oleh kepentingan sesaat para elite. Sebelum bertindak bertanyalah dan berdialoglah dengan hati nurani yang paling dalam untuk melakukan sesuatu yang terbaik. Demikian klarifikasi ini saya sampaikan dengan harapan dapat menghentikan fitnah atau kabar bohong yang diedarkan. Terimakasih,” tegasnya.

Sebelumnya, Hal yang sama juga diungkapkan Ketua MPW Pemuda Pancasila Provinsi Jawa Timur, AA La Nyalla Mahmud Mattalitti bahwa masyarakat sebenarnya sudah memahami tentang tradisi pemberian amplop atau hadiah kepada Kiai. Tradisi tersebut juga bukan hal baru.

“Asal mula dari tradisi ini adalah dalam niatan mencari berkah dari Kiai. Saya pribadi juga melakukan tradisi tersebut. Bahkan tidak jarang pengusaha atau pejabat memberikan hadiah umroh atau haji kepada para Kiai. Itu sangat wajar,” urainya.

Diungkapkan La Nyalla, saat KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjabat Presiden juga memberikan bisyaroh kepada para Kiai. Dan hal tersebut tidak menjadi masalah. “Apalagi kita semua tahu, pesantren itu entitas civil society mandiri, yang tidak jarang pembiayaannya dari kantong pengasuh. Nah, kita selain berniat mencari barokah dari ulama, juga diniatkan untuk membantu proses belajar mengajar di pesantren,” tambah calon anggota DPD RI dari Dapil Jatim ini.

Jadi, lanjut La Nyalla, apa yang dilakukan Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan kepada Kiai Zubair beberapa waktu lalu tidak lebih sebagai bentuk penghormatan kepada kiai dan menjalankan tradisi di masyarakat.

“Apalagi beliau (Kiai Zubair, red) biasa menerima kunjungan siapa pun. Termasuk kunjungan pejabat negara, politisi sampai rakyat jelata. Jadi kunjungan Pak Luhut ke sana, tak usah digoreng untuk konsumsi politik,” tandasnya. (Red)