Debat Capres Keempat, Jokowi: Pak Prabowo Tidak Percaya pada TNI Kita

15
0

Liputan5.net l JAKARTA – Calon presiden nomor urut 01, Joko “Jokowi” Widodo, menanggapi pernyataan calon presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto, yang mengatakan bahwa pertahanan dan keamanan di Indonesia masih lemah.

Jokowi pun menyinggung dan mengatakan, Prabowo tak percaya pada TNI di Indonesia. Ia pun menjelaskan pertahanan yang sudah dibangun oleh TNI di Indonesia.

“Saya melihat Pak Prabowo tidak percaya pada TNI kita. Saya yang sipil sangat percaya pada TNI yang kita miliki,” kata Jokowi.

Jokowi mengakui bahwa anggaran untuk TNI memang belum terlalu kuat, namun ia meyakini dengan adanya investasi alutsista bisa meningkatkan anggaran TNI.

“Tetapi yang paling penting masih kurangnya anggaran pertahanan kita ya kita bangun dengan cara investasi alutsista. Setiap anggaran yang ada di Kemenhan harus membangun industri alutsista kita,” terang dia.

“Tank, kita memiliki tank harimau, kita juga memiliki kapal selam Gagali dengan kerja sama bersama negara lain. Kalau investasi-investasi di bidang pertahanan terus kita lakukan, kita bisa punya alutsista yang baik,” lanjut Jokowi.

Berkaitan dengan semakin berkembangkan sistem teknologi saat ini. Jokowi akan memperkuat Sistem Pertahanan Siber Negara. Menurutnya, perang tidak hanya terkait pertempuran dengan senjata tapi juga dengan teknologi.

“Penguatan pengembangan SDM TNI dalam penguasaan teknologi bersenjata dan siber sangat diperlukan pertahanan kita ke depan,” ujar Jokowi saat debat pilpres keempat di Hotel Shangri-La, Jakarta Pusat, Sabtu (30/3).

Selain itu, Jokowi juga menyebut bahwa Indonesia adalah negara yang cukup aman dari serangan-serangan bersenjata negara lain.

“Membandingkan dengan negara tetangga, 20 tahun ke depan invasi dari negara lain ke negara kita tidak ada,” katanya.

Selain itu, Jokowi juga menjelaskan, Indonesia saat ini telah mendapatkan kepercayaan dari internasional untuk menyelesaikan beberapa konflik. Salah satunya yakni konflik di Afghanistan.

“Di Afghanistan kita juga diberikan kepercayaan untuk ikut merukunkan, mendamaikan dari faksi-faksi yang berkonflik di sana. Juga yang menjadi kekuatan, karena kita tidak memiliki kepentingan apa pun, baik di Afghanistan dan negara-negara lain,” ungkapnya.

Jokowi melanjutkan kekuatan Indonesia sebagai negara muslim terbesar di dunia bisa menjadi modal besar bagi diplomasi dengan negara lain.

“Bisa kita jadikan sebagai modal besar bagi kita berdiplomasi dengan negara-negara lain, termasuk juga saat menawarkan produk-produk dalam perdagangan dengan luar negeri,” jelas dia. (LNM/Js).